Kumpulan Berita Populer

Nonton Video Mesum Berpotensi Mengakibatkan Penyimpangan Seks?

Beredarnya video mesum yang diduga dilakukan artis mirip Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Sejumlah pemerintah daerah mengimbau agar dilakukan blokade terhadap peredaran video mesum tersebut. Bahkan beberapa sekolah merazia telepon seluler siswanya. Para orangtua pun tak kalah cemas.


Kecemasan itu terkait dengan dampak negatif video porno (dan bahan pornografi lain), yang diperkirakan bisa mengakibatkan perilaku seksual menyimpang atau kekerasan seksual. Topik efek negatif bahan-bahan pornografi (termasuk di film, buku, video, internet) telah menjadi bahan kajian pada sejumlah studi. Berikut beberapa contoh:


* Sebuah studi di pada 1987 menemukan bahwa wanita yang teraniaya, atau menjadi subyek pelecehan seksual, memiliki pasangan yang kerap melihat pornografi.


* Penelitian dengan metode meta-analisis pada 1995 menemukan bahwa pornografi diperkirakan memperkuat perilaku agresif dan sikap negatif terhadap perempuan.


* Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa remaja yang mengonsumsi pornografi: dua pertiga dari laki-laki dan 40 persen perempuan ingin mencoba beberapa perilaku yang mereka saksikan. Dan, 31 persen dari laki-laki dan 18 persen dari perempuan mengaku melakukan beberapa adegan seksual yang mereka lihat di bahan-bahan pornografi dalam beberapa hari setelah melihat.


* Sebuah studi pada 1993 menemukan: eksposur terhadap bahan seksual yang merangsang dapat menyebabkan perilaku agresif pada remaja. Bahan-bahan yang berisi kekerasan seksual menyebabkan perilaku agresif yang lebih besar dan berdampak negatif pada sikap pria terhadap perempuan.


* Evaluasi pada 1984 menyebutkan meningkatnya jumlah kasus pemerkosaan di berbagai negara sangat berkolerasi dengan liberalisasi pembatasan pornografi.


Canadian Institute for Education on the Family, pada 2004, melakukan penelitian mengenai hal ini. Dalam ringkasan penelitian, Peter Stock, penulis studi ini mengatakan bahwa masyarakat Kanada telah menjadi masyarakat yang semakin pornografi dalam beberapa dekade terakhir yang berimplikasi mengganggu anak-anak yang dibesarkan di dalamnya. Sejumlah studi ilmiah telah menunjukkan korelasi kuat antara paparan pornografi dan perilaku seksual yang menyimpang oleh anak-anak.


Ada pula penelitian yang menyatakan bahwa pornografi merugikan anak-anak. Alasannya perkembangan seksual seorang anak terjadi secara bertahap dari masa kanak-kanak. Paparan terhadap pornografi membentuk perspektif seksual anak dengan menyediakan informasi mengenai aktivitas seksual. Namun, jenis informasi yang diberikan oleh pornografi tidak dengan perspektif seksual yang normal.


Mengutip studi pada 2004 yang dilakukan Institut Kesehatan Anak Nasional Amerika Serikat, menyatakan bahwa menonton seks di TV diperkirakan bisa mempercepat inisiasi seksual remaja.


Kaitannya dengan ledakan pertumbuhan internet, peneliti mengatakan pornografi bebas yang tersedia di internet merupakan ancaman bagi keselamatan anak-anak. Mengutip sebuah penelitian lain, Peter Stock mengatakan bahwa satu dari lima anak, berusia antara 10 dan 17, menerima ajakan seksual melalui Internet pada tahun 1999. Beberapa peneltian juga telah menyimpulkan bahwa banyak industri pornografi, dengan miliaran dolar, memfokuskan sasaran anak laki-lagi usia 12-17 tahun, dengan tujuan menciptakan kecanduan– seperti halnya strategi pemasaran yang diduga biasa dilakukan industri rokok.


Tampaknya, di kalangan peneliti, topik ini masih menimbulkan perdebatan. Penelitian lain pada akhir 2009, seperti yang dimuat di ScienceDaily, 1 Desember 2009, mengungkapkan hal yang berbeda. Simon Louis Lajeunesse, kandidat doktor dan dosen di School of Social Work Université de Montréal, Kanada, melakukan penelitian mengenai pengaruh pornografi pada pria usia 20-an tahun.


“Kami mulai penelitian dengan mencari pria usia dua puluhan yang tidak pernah mengkonsumsi pornografi. Kami tidak dapat menemukan apa pun,” ujar Lajeunesse.


Lebih jauh, kemudian ia mewawancarai 20 mahasiswa laki-laki heteroseksual yang mengkonsumsi pornografi.


“Mereka berbagi sejarah seksual mereka, dimulai dengan kontak pertama mereka dengan pornografi, pada masa awal remaja mereka. Tidak satu pun subyek memiliki patologi seksualitas.Bahkan, semua praktek-praktek seksual mereka sangat konvensional,” kata Lajeunesse.


Penelitian ini menyimpulkan bahwa 90 persen pornografi dikonsumsi di Internet, sedangkan 10 persen berasal dari toko video. Rata-rata, pria lajang menonton pornografi tiga kali seminggu selama 40 menit. Lajeunesse menemukan kebanyakan anak laki-laki mencari materi pornografi pada usia 10 tahun. Namun, mereka segera membuang apa yang tidak mereka sukai.


Lajeunesse menyangkal pengaruh buruk yang sering dikaitkan dengan pornografi sementara banyak penelitian lain mengatakan pornografi bisa berdampak buruk termasuk terhadap perilaku seksual.